Is there any wat (part 1)

Is There Any Way?


26829-12153418092009@FOTO-luar-4“Pa, Papa di mana sih? di sini rame banget, Hana udah cari papa ke mana-mana tapi nggak keliatan juga.”, gadis yang menyebut dirinya Hana itu memasangkan headset lekat-lekat di telinganya.

 

Terdengar satu jawaban dari seberang sana, tapi Hana tidak bisa mendengarnya.

“Apa pa? Papa di mana? Halo? papa?”

BUKK

Dengan amat-sangat tiba-tiba, ponsel itu terlepas begitu saja. Terlempar jauh, entah kemana. Hana meringis, berbalik badan, menatap punggung laki-laki yang telah menabraknya yang pergi tanpa peduli dengan kesal. Sekarang satu-satunya alat komunikasi yang bisa membantunya menemukan sang papa di antara desakan orang-orang ini menghilang. Terlempar. Terlempar jauh entah kemana.

 

~~øØø~~

 

Ia menatap sekelilingnya ketika sampai di bandara paling terkenal-di Indonesia- itu. Sekilas ia masih ingat pemandangan indah yang dilihatnya saat masih mengudara tadi.

gambar_berita_1763

“Jadi ini bandar udara yang katanya terkenal itu..”, gumamnya lebih kepada dirinya sendiri.

 

Tak ingin berlama-lama, ia segera memakai kacamata hitamnya dan bergegas menuju-entah kemana.

Kacamata hitam, jas hitam, sepertinya dirasa amat penting untuk menutupi keberadaannya dari pandangan orang lain.

 

Ia berjalan sangat cepat. Ternyata sesuai dugaan, bandara ini ramai sekali. Ia tak mungkin sanggup berada di sini lama-lama. Perjalanan tadi sangat melelahkan. Dan ia merasa sangat butuh istirahat.

 

BUKK

Bahunya menabrak sesuatu, atau mungkin seseorang? Ah, ia tak perlu peduli. Toh tempat ini sangat ramai, tak akan ada seorangpun yang dapat menyadari keberadaannya.

 

 

Tiba-tiba seseorang menariknya dengan kuat, dahinya mengerut karena kaget. Ia berbalik badan, dan, ternyata seorang gadis yang diidentifikasi berusia jauh lebih muda dibanding dirinya.

Bahkan tinggi badannya dapat menjamin hal itu.

“Hey, kau buta ya?! Tidak lihat aku sedang kesulitan menghubungi papaku?!”

Ia mengerutkan alis. Gadis itu sepertinya sedang mengajaknya bicara tapi ia tidak mengerti dengan ucapannya. Mungkin bahasa Indonesia? pikirnya.

Yang terpenting adalah, gadis itu tidak mengenali wajahnya. Ia merasa bisa sedikit bernafas lega. Untuk menghormati hal itu, mungkin ia perlu menyapanya.

“Maaf?”, tanya laki-laki itu dengan bahasa Inggris yang cukup fasih.

 

Ia bisa melihat guratan heran di wajah gadis itu. Lalu untuk menyairkan suasana, ia bertanya lagi sambil tersenyum.

“Maaf, ada yang bisa kubantu?”, sekali lagi, dengan bahasa Inggris.

 

“E-ee-eeh….emm….Maaf, kupikir orang Indonesia.”, ia menjawab dengan bahasa Inggris yang kaku namun tetap berirama.

Laki-laki itu tidak menanggapi, masih menatapnya.

Gadis itu menggaruk dagunya yang tidak gatal dengan jari telunjuk. “tadi kau menabrakku sampai ponselku terlepas.”, ia tersenyum pahit, “Dan sekarang aku harus menghubungi ayahku untuk menemukannya.”

 

Ia tidak mengerti.

“Lalu?”, tanyanya.

 

Gadis itu-yang sebenarnya adalah Hana- mulai kehilangan kesabaran.

“ponselku sekarang hilang dan aku tidak mungkin bisa menemukannya dalam keramaian begini. Aku harus menghubungi ayahku sebelum ia melarangku bertemu teman-teman di cafe.”, jelasnya.

 

Laki-laki itu mulai mengerti. “Jadi, apa yang harus kulakukan untuk membantumu?”, tiba-tiba ia menawarkan.

 

Hana terkejut. Ini pertama kalinya seorang turis asing yang tidak mengenalnya langsung menawarkan sebuah bantuan. Tuhan…apakah dia adalah penyelamat hidupku? batinnya dalam hati

 

“Hemm…bagaimana kalau kau bantu aku menemukan ayahku? Aku tidak akan meminta ganti rugi. Hanya saja, kalau kau melakukannya itu akan sangat membantu.”

 

Laki-laki itu mengerutkan alis-lagi. Bagaimana mungkin ia membuang jam istirahatnya demi gadis yang tidak dikenalnya ini? Dan, di negara yang amat asing ini?

 

“Apa tidak ada pilihan lain?”, ia bertanya sekali lagi.

“Tidak.”, Hana menjawab dengan tegas.

 

~~øØø~~

Hampir satu jam berlalu tanpa sebuah hasil. Kedua orang-yang nampak seperti pasangan itu- mulai kesal. Sepanjang kebersamaan mereka, tidak satu pun mengeluarkan suara. Atau bahkan, bertanya pun tidak.

 

“Lama-lama aku jadi berpikir”, si Laki-laki membuka suara. “Jangan-jangan kau melakukan ini hanya untuk bisa dekat-dekat denganku?”, pertanyaan itu terdengar seperti petir yang menyambar saat pertengahan siang bolong di kuping si gadis. “kau sudah tahu kan siapa aku?”, dan dia malah melanjutkan.

 

“Hey!!! kau pikir aku suka berkeliling di bandara mencari ayahku yang tidak jelas keberadaannya dengan seorang laki-laki asing yang bodoh dan jelek sepertimu?! Memangnya aku mau membuang-buang waktu untuk hal seperti ini?! Apa-apaan kau, kau bilang aku sengaja melakukan ini semua hanya untuk dekat-dekat denganmu?! Memangnya kau siapa?!”, si gadis berteriak, tepat di depan mukanya.

 

Si laki-laki tinggi yang masih mengenakan pakaian serba hitam itu ikut-ikutan naik pitam.

“OHH!! aku baru tahu kalau di Indonesia ada orang YANG TIDAK TAHU APA-APA sepertimu.“, dia membalas. Memberi tekanan yang kuat pada lima kata terakhirnya. Si gadis masih diam dengan wajah kemerahan sakim kesalnya. “Kau mau tahu siapa aku? Aku ini artis terkenal dari KOREA”, tekanan, sekali lagi.

 

Si gadis membalas sebelum ia sempat melanjutkan.

 

“OH? Korea? Memangnya penting? Artis Hollywood, bukan! Artis Indonesia juga bukan! Apa yang bisa dibanggakan dari-JALAN-JALAN- denganmu?”

 

walhasil, waktu yang seharusnya amat berharaga bagi kedua orang itu terbuang percuma hanya untuk adu mulut di antara mereka.

 

“Dengar ini baik-baik! Aku penyanyi terkenal dari Korea. Namaku CHOI—-”

 

“Hana?”

Sebuah suara yang sepertinya adalah panggilan dari surga membuat laki-laki itu menghentikan ucapannya. Kedua orang itu menoleh, menatap seorang laki-laki paruh baya yang berdiri di depan mereka dengan wajah kelelahan.

 

Hana, yang langsung tahu bahwa itu adalah papanya segera manghampiri beliau dan meraih barang-barang bawaan yang digenggam laki-laki itu dengan susah payah.

 

“Ya ampun Pa…. maaf, Hana nggak ketemu-ketemu sama papa…. Hana udah cari Papa ke mana-mana tapi Papa—-”

 

“Iya… Papa nggak masalah koq. Yang jadi masalah, kenapa bisa terlambat dan malah kenal sama turis gitu? Kamu kenalan dulu sama dia? Siapa namanya?”, tanya papa polos.

Pa, kalo bisa juga aku malah nggak bakal pernah mau kenal sama dia. Batinnya.

“Ceritanya panjang pa… yang jelas dia itu udah nolongin aku nyari Papa.”, akhirnya Hana menjawab.

“Siapa namanya?”

 

Hana membalikkan badan, menatap laki-laki itu sambil mengisyaratkan sebuah pertanyaan seperti orang menggerutu yang tidak jelas.

“Name? Name? Your Name?”, tanyanya penuh isyarat.

Si laki-laki baju hitam itu mendesis pelan “Oh—”, lalu menjawab, “Choikang Changmin”, dengan suara yang sangat pelan namun bisa terjangkau oleh pendengaran Hana.

Hana berbalik lagi menatap papanya.

“Namanya Choi-i-kang– Chang–ngm–min –Pa—”

Choikang Changmin? Koq kayak pernah denger?, batin Hana heran.

“Ooohh….”, papa menghampiri laki-laki itu-Changmin.

s320x240

“Aku pernah dengar, kau artis muda asal Korea yang namanya sudah melambung tinggi hampir ke seluruh Asia bukan? Apa itu nama grupmu? Tosho—-”

“Tohoshinki, begitulan kami dikenal di Jepang.”, Changmin tersenyum penuh kemenangan menatap Hana yang diam saja di tempatnya. Seolah-olah mengisyaratkan, ‘tuh kan…bapak-bapak aja tau..’, Hana mencibir.

1097

“Ya, ya. Tohoshinki, aku memang banyak mendengar tentangmu saat di Jepang. Aku baru saja kembali dari sana.”

Changmin dan Hana hanya manggut-manggut.

“Oh! Kebetulan sekali! bagaimana kalau kau sementara menumpang di rumah kami? sepertinya menyenangkan?”, usul itu terlempar begitu saja dari mulut besar papa.

“HAH?!”, respon keduanya, serempak.

“Maaf, paman, tapi aku…”, Changmin berusaha mengelak.

“Sudahlah Changmin, jangan menolak. Coba kau lihat ke belakang.”, papa bersikukuh.

 

Changmin mengikuti petunjuknya. Ia menoleh ke belakang, dan….

Pers sedang menyaksikan mereka.

Tiba-tiba ia merasa panas dingin. Sepertinya memang tidak ada jalan lain.

 

~~øØø~~

to be continoued….

 

Buat yang mau tau cerita lanjutannya, silahkan di liat di sini.

Pos ini dipublikasikan di Fanfiction dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s